Dua Putri SKALA Gandapura Harumkan Aceh di PEKSIMIDA 2026, Cut Putro Arfiyah Wakili Aceh ke Tingkat Nasional
0 menit baca
![]() |
| Dokumentasi Trend Rakyat |
TrendRakyat | Bireuen – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan putri-putri terbaik asal Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, pada ajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) Aceh 2026 yang berlangsung di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, 26–29 Juli 2026.
Dua mahasiswi yang juga merupakan anggota Sanggar Kaligrafi Alquran (SKALA) Gandapura di bawah naungan Yayasan Skala Pena Aceh, berhasil mengukir prestasi pada cabang lomba lukis.
Cut Putro Arfiyah, mahasiswi Universitas Malikussaleh yang berasal dari Gampong Lapang Barat, sukses meraih Juara I melalui karya berjudul Marwah Abadi Nanggroe. Raihan tersebut mengantarkannya menjadi wakil Provinsi Aceh pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) 2026 yang akan digelar di Universitas Jember, Jawa Timur, pada 8–12 September mendatang.
Sementara itu, Fikra Adila, mahasiswi Universitas Almuslim asal Gampong Samuti Krueng, turut mengharumkan nama Gandapura, dengan meraih Juara III melalui karya bertajuk Bilah Peunawa. Kedua karya tersebut mengangkat tema resmi PEKSIMIDA tahun ini, yakni "Metamorfosis Tradisi: Denyut Budaya Melintasi Zaman".
Melalui karya Bilah Peunawa, Fikra mengangkat rencong sebagai simbol jati diri masyarakat Aceh sekaligus penawar atas keterputusan nilai-nilai budaya. Aliran air yang melintasi bilah rencong dimaknai sebagai warisan budaya yang terus mengalir dari generasi ke generasi, sedangkan perubahan bentuk batu mengikuti aliran air menggambarkan kemampuan budaya untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.
Tanah yang retak dalam karya tersebut menjadi simbol tantangan modernisasi ketika hubungan masyarakat dengan akar budayanya mulai melemah. Namun, aliran air yang tetap mengalir menegaskan bahwa tradisi akan selalu menemukan jalan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang mulai memudar.
Karya itu juga diperkaya dengan stilisasi ragam hias khas Aceh seperti Bungong Meulu, Lilit Akar, dan Puta Taloe yang dipadukan dengan bentuk dasar kubah masjid sebagai representasi keterkaitan budaya, sejarah, dan spiritualitas masyarakat Aceh. Susunan motif berbentuk lingkaran di belakang rencong melambangkan kesinambungan, persatuan, dan siklus pewarisan nilai budaya yang tidak pernah terputus. Dominasi warna biru, hijau, emas, dan merah menggambarkan keteduhan, harapan, kemuliaan, serta semangat menjaga warisan budaya.
Ketua Sanggar Kaligrafi Alquran (SKALA) Gandapura, Nazaruddin, S.Pd.I, mengaku bangga atas capaian kedua anak didiknya tersebut. Menurutnya, prestasi itu merupakan hasil dari proses pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan serta kesungguhan para peserta dalam mengembangkan potensi seni yang dimiliki.
"Alhamdulillah, ini menjadi kebanggaan bagi keluarga besar SKALA Gandapura. Prestasi ini membuktikan bahwa anak-anak daerah memiliki kemampuan bersaing di tingkat provinsi bahkan nasional apabila mendapatkan pembinaan yang baik dan terus didukung," ujar Nazaruddin kepada Rakyat Aceh, Senin (3/8).
Ia berharap, keberhasilan tersebut menjadi motivasi bagi generasi muda Aceh untuk terus berkarya dan melestarikan seni budaya daerah melalui berbagai bidang kreatif.
"Mohon dukungan dan doa dari seluruh masyarakat, agar Cut Putro mampu meraih prestasi terbaik serta mengharumkan nama Aceh di tingkat nasional," sebut Nazaruddin.
Prestasi Cut Putro Arfiyah dan Fikra Adila juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Gandapura. Selain sama-sama berasal dari kecamatan yang sama, keduanya merupakan binaan Sanggar Kaligrafi Alquran (SKALA) Gandapura milik Nazaruddin yang berlokasi di Gampong Blang Keude, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pembinaan seni dan budaya di daerah mampu melahirkan generasi muda berprestasi yang tidak hanya mengharumkan nama perguruan tinggi masing-masing, tetapi juga membawa nama baik Kabupaten Bireuen dan Provinsi Aceh di tingkat nasional. (red)
