BREAKING NEWS

Jejak Ceulangiek, Anak Miskin dan Eks Kombatan yang Menjadi Suara Rakyat Aceh di Parlemen

Anggota DPR Aceh asal Bireuen, Rusyidi Mukhtar alias Ceulangiek.

TrendRakyat | Bireuen
- Di sebuah warung kopi sederhana di kawasan Peusangan, Kabupaten Bireuen, seorang pria duduk tanpa sekat. Tak ada jarak antara dirinya dan masyarakat. Obrolan mengalir ringan tentang harga hasil panen, kondisi jalan desa, hingga keluhan pelayanan publik.

"Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara".

Dialah Rusyidi Mukhtar, yang akrab disapa Ceulangiek, seorang politikus yang meniti jalan panjang dari keterbatasan hidup, konflik bersenjata, hingga kursi kekuasaan.

Namun bagi masyarakat, ia tetap sosok yang sama: sederhana, terbuka, dan selalu ada.

*Anak Miskin di Tengah Bayang Konflik

Kisah Ceulangiek bermula dari kehidupan yang jauh dari kata mudah. Ia lahir dan tumbuh dari keluarga miskin di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, dalam kondisi serba terbatas.

Masa kecilnya bukan hanya tentang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga menghadapi situasi konflik yang mencekam. Aceh pada masa itu berada dalam pusaran konflik panjang, di mana ketidakpastian dan ketakutan menjadi bagian dari keseharian.

Konflik antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) silam, bukan sekadar cerita sejarah baginya, melainkan realitas yang ia jalani.

Ia tumbuh sebagai bagian dari generasi yang menyaksikan langsung luka sosial dan ketegangan bersenjata di Bumi Serambi Mekkah.

*Menjadi Kombatan, Menjadi Bagian Sejarah

Di tengah situasi itu, Ceulangiek memilih jalan yang tidak mudah: menjadi bagian dari eks kombatan GAM.

Keputusan tersebut lahir dari dinamika zaman, ketika banyak pemuda Aceh merasa terpanggil untuk terlibat dalam perjuangan.

Namun perjalanan hidupnya tidak berhenti di sana.

Momentum penting hadir setelah Perjanjian Helsinki, yang mengakhiri konflik panjang di Aceh. Seperti banyak mantan kombatan lainnya, ia dihadapkan pada pilihan, kembali ke kehidupan biasa atau mengambil peran baru dalam membangun Aceh.

Tepatnya, Ceulangiek memilih jalur politik, memperjuangkan suara rakyat di parlemen. Bukan lagi dengan senjata, tetapi dengan gagasan dan pengabdian.

*Politik dari Bawah: Warung Kopi sebagai Ruang Aspirasi

Jika ada satu ciri khas yang melekat kuat pada Ceulangiek, itu adalah kedekatannya dengan masyarakat.

Ia tidak membangun karier politik dari ruang-ruang eksklusif, melainkan dari bawah, dari warung kopi, dari desa ke desa, dari percakapan sederhana yang jujur.

Di Aceh, warung kopi adalah ruang sosial yang hidup. Dan bagi Ceulangiek, tempat itu adalah “kantor politik” yang sesungguhnya.

“Untuk menyerap aspirasi rakyat, tidak harus formal. Kadang justru lebih jujur saat ngopi bersama,” menjadi prinsip yang ia pegang.

Tak heran, ia dikenal sebagai salah satu anggota dewan yang paling sering terlihat duduk bersama masyarakat, tanpa protokoler yang kaku.

*Dua Periode di DPRK: Dari Anggota hingga Ketua

Kepercayaan masyarakat terhadap Ceulangiek tidak datang secara instan. Ia membangunnya perlahan, melalui kehadiran nyata dan konsistensi.

Hingga akhirnya, ia terpilih sebagai anggota DPRK Bireuen selama dua periode.

Bukan hanya itu, ia juga dipercaya menjabat sebagai Ketua DPRK Bireuen, sebuah posisi strategis yang menunjukkan kuatnya legitimasi politik yang ia miliki.

Dalam kepemimpinannya, ia dikenal mampu menjembatani berbagai kepentingan. Ia tidak hanya menjadi representasi politik, tetapi juga mediator antara rakyat dan pemerintah.

*Melangkah ke DPRA: Representasi Bireuen

Setelah dua periode di tingkat kabupaten, langkah Ceulangiek berlanjut ke tingkat provinsi.

Ia dipercaya menjadi perwakilan masyarakat Bireuen di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), dan masih mengemban amanah tersebut hingga sekarang.

Sebagai kader Partai Aceh, ia menjadi bagian dari kekuatan politik lokal yang lahir dari sejarah panjang Aceh pasca konflik.

Di DPRA, ia tetap dikenal sebagai sosok yang tidak berubah: sederhana, komunikatif, dan dekat dengan rakyat.

*Bersahaja, Tapi Tajam Secara Politik

Meski dikenal sederhana, Ceulangiek bukanlah sosok yang bisa dipandang sebelah mata dalam dunia politik.

Ia memiliki kemampuan membaca situasi, membangun komunikasi lintas kelompok, dan menjaga keseimbangan kepentingan.

Gaya politiknya tidak konfrontatif, tetapi efektif.

Banyak kalangan menilai, kekuatannya terletak pada kombinasi antara pengalaman hidup, kedekatan dengan masyarakat, dan insting politik yang matang.

*Tokoh Peusangan Raya dan Pilar Pendidikan

Di luar dunia politik, Ceulangiek juga dikenal sebagai tokoh penting di kawasan Peusangan Raya.

Perannya semakin luas ketika ia dipercaya sebagai Ketua Pembina Yayasan Almuslim Peusangan, salah satu yayasan pendidikan terbesar di Aceh.

Di bawah yayasan ini berdiri sejumlah institusi besar, antara lain:

* Universitas Almuslim

* Universitas Islam Aceh

* Pesantren Modern Almuslim Peusangan

Peran ini menunjukkan bahwa dedikasinya tidak hanya pada politik, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia dan masa depan generasi muda Aceh.

*Figur yang Selalu Membuka Pintu

Satu hal yang paling sering disebut masyarakat tentang Ceulangiek adalah keterbukaannya.

Ia dikenal sebagai figur yang selalu menerima masyarakat tanpa sekat, tanpa birokrasi yang rumit. Baik di rumah, kantor, maupun warung kopi, masyarakat bisa menyampaikan langsung aspirasi mereka.

Dalam lanskap politik modern yang sering terasa jauh dari rakyat, sikap ini menjadi nilai lebih yang jarang ditemukan.

*Konsistensi di Tengah Perubahan

Di era digital dan pencitraan politik yang semakin kompleks, Ceulangiek tetap mempertahankan pendekatan lama: hadir langsung di tengah masyarakat.

Ia tidak bergantung sepenuhnya pada popularitas media sosial, melainkan pada hubungan nyata yang dibangun dari waktu ke waktu.

Dan hasilnya terlihat jelas, kepercayaan publik yang terus terjaga.

*Dari Luka Masa Lalu, Menjadi Harapan

Perjalanan hidup Ceulangiek adalah cerminan perjalanan Aceh itu sendiri, dari konflik menuju damai, dari keterpurukan menuju harapan.

Dari anak miskin, korban konflik, eks kombatan, hingga menjadi pimpinan dewan dan wakil rakyat di tingkat provinsi, ia menempuh jalan panjang yang tidak mudah.

Namun ia tidak pernah meninggalkan akar. Ia tetap duduk di warung kopi. Tetap mendengar. Tetap dekat.

*Ceulangiek Identik dengan Politik yang Membumi

Kisah Rusyidi Mukhtar atau Ceulangiek adalah pengingat bahwa politik tidak selalu harus berjarak.

Bahwa kekuasaan bisa lahir dari kedekatan, dari kejujuran, dan dari kesediaan untuk terus mendengar.

Dari warung kopi hingga ruang sidang, dari masa konflik hingga masa damai, ia menjelma menjadi simbol politik yang membumi.

Sebuah potret tentang bagaimana seorang anak miskin dari daerah konflik bisa tumbuh menjadi suara bagi rakyatnya sendiri. 

Di tengah hiruk-pikuk dinamika politik Aceh, nama Rusyidi Mukhtar yang akrab disapa Ceulangiek, muncul sebagai sosok yang sulit dilepaskan dari denyut kehidupan masyarakat Bireuen, khususnya kawasan Peusangan Raya.

"Ceulangiek bukan sekadar politikus, melainkan figur publik yang tumbuh dari, oleh, dan untuk rakyat". (red)


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar