Almuslim TV Hadirkan Program Inspiratif: Di Balik Mendunianya Tari Ratoh Jaroe, Angkat Filosofi Budaya Aceh

Almuslim TV menghadirkan maestro tari Ratoh Jaroe, Yusri Saleh, yang akrab disapa Dek Gam dalam wawancara inklusif, Jumat (10/04/2026)
For Trend Rakyat
TrendRakyat | Bireuen – Upaya pelestarian budaya terus digalakkan melalui sajian edukatif dan inspiratif. Salah satunya dilakukan oleh Almuslim TV yang menghadirkan program bertajuk, “Di Balik Mendunianya Tari Ratoh Jaroe”, sebuah tayangan yang mengupas makna, sejarah, filosofi, hingga perjalanan tari Ratoh Jaroe hingga dikenal luas, bahkan ke mancanegara.
Program yang ditayangkan pada Jumat (10/04/2026) ini, dipandu oleh Misnar, Sekretaris Almuslim TV, yang tampil interaktif dan mampu menggali kisah mendalam di balik kesuksesan maestro tari Yusri Saleh, yang akrab disapa Dek Gam dan dikenal sebagai The King of Ratoh Jaroe.
Melalui dialog yang hangat dan informatif, penonton diajak menyelami proses kreatif serta dinamika dalam mengembangkan karya budaya hingga mendunia.
Tari Ratoh Jaroe sendiri merupakan tari kreasi karya Yusri Saleh yang memadukan unsur berbagai tarian tradisional Aceh, seperti Tari Saman, Rapai Geleng, dan tarian Aceh lainnya. Perpaduan tersebut melahirkan sebuah karya yang dinamis, penuh kekompakan, serta sarat nilai kebersamaan, dan ciri khas budaya Aceh, yang sekarang sudah mendunia.
Dalam program ini, penonton tidak hanya disuguhkan keindahan gerakan, tetapi juga diajak memahami makna di balik setiap gerakan, menelusuri sejarah lahirnya Ratoh Jaroe, serta menggali filosofi yang terkandung di dalamnya. Tayangan ini juga mengangkat realitas terkini, termasuk tantangan pelestarian budaya di tengah arus modernisasi, serta harapan agar Ratoh Jaroe tetap hidup dan berkembang di generasi mendatang.
Melalui wawancara eksklusif, Yusri Saleh membagikan perjalanan panjangnya dalam membesarkan Ratoh Jaroe hingga mendapat pengakuan luas. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara inovasi dan pelestarian tradisi agar karya tetap relevan tanpa kehilangan jati diri budaya.
Ia juga berharap tari Ratoh Jaroe dapat dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan di Aceh sebagai langkah strategis pelestarian budaya sejak dini. Selain itu, ia menggagas pertunjukan kolosal yang melibatkan hingga 10.000 penari dalam satu panggung sebagai bagian dari pekan seni dan budaya Aceh. Gagasan ini dinilai dapat memperkuat identitas budaya daerah sekaligus menjadi daya tarik besar di tingkat nasional maupun internasional.
Program ini turut menyoroti peran generasi muda sebagai penjaga keberlanjutan budaya. Dengan terus mempelajari, menampilkan, dan mengembangkan tari Ratoh Jaroe, generasi muda diharapkan mampu menjaga eksistensi warisan budaya di tengah derasnya globalisasi.
Ketua Koordinator Almuslim TV, Dr Hendra Saputra, menyampaikan, program ini merupakan bentuk komitmen dalam menghadirkan konten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga edukatif dan mampu menginternalisasi nilai-nilai budaya Aceh.
“Almuslim TV siap menjadi ruang diseminasi dan aktualisasi budaya, sekaligus wadah bagi para seniman dan budayawan untuk mengekspresikan karya mereka kepada masyarakat luas,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Almuslim, Dr Marwan, turut mengapresiasi program tersebut sebagai langkah nyata pelestarian budaya melalui media. Ia menilai, kehadiran Almuslim TV menjadi bagian penting kontribusi dunia pendidikan dalam mendukung pengembangan budaya dan kreativitas.
Ia berharap, program serupa dapat terus dikembangkan sebagai sarana edukasi yang menghubungkan dunia akademik dengan masyarakat, serta memperkuat peran universitas sebagai pusat pelestarian nilai-nilai budaya bangsa.
"Melalui program ini, Almuslim TV tidak hanya menghadirkan tontonan berkualitas, tetapi juga memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga, merawat, dan mewariskan warisan budaya kepada generasi mendatang," sebut Marwan. (red)