BREAKING NEWS

Presiden Sebut Aceh Tamiang Pulih, Korban Bencana di Bireuen Justru Masih Berlebaran di Pengungsian Halaman Kantor Bupati

Para pengungsi makan bersama di momen lebaran kedua, tepatnya di halaman kantor Bupati Bireuen, Minggu (22/3)
For Trend Rakyat

TrendRakyat
 – Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto terkait percepatan pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang menuai sorotan. Dalam keterangannya usai Salat Idulfitri 1447 Hijriah, Presiden menyebut kondisi pengungsi di wilayah tersebut telah pulih hampir 100 persen, bahkan tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda.

“Alhamdulillah, di tenda sudah tidak ada lagi, sudah 100 persen keluar. Semua sudah masuk ke hunian sementara maupun tetap,” ujar Prabowo, Sabtu (21/3/2026).

Namun, kondisi berbeda justru terlihat di Bireuen. Di kabupaten ini, puluhan korban banjir masih harus merayakan Idulfitri dalam keterbatasan, bertahan hidup di bawah tenda darurat yang didirikan di halaman Kantor Bupati.

Alih-alih menikmati hangatnya kebersamaan di rumah, para pengungsi menghabiskan hari raya dengan beralaskan tikar dan beratapkan langit. Tidak ada ruang tamu, dapur, ataupun hidangan khas lebaran, yang ada hanya kebersamaan sederhana dan perjuangan bertahan di tengah ketidakpastian.

Di bawah rindangnya pepohonan, mereka berbagi makanan seadanya. Suasana yang seharusnya penuh suka cita berubah menjadi sunyi yang menyayat. Anak-anak duduk di samping orang tua mereka, dengan tatapan kosong, seakan belum memahami mengapa lebaran tahun ini terasa begitu asing.

Tak ada kunjungan keluarga, tak ada amplop lebaran. Hanya tenda, kenangan rumah yang rusak, dan harapan yang belum juga menemukan kepastian.

M Amin, salah satu pengungsi di halaman kantor Bupati Bireuen, menyebut jumlah warga yang bertahan di lokasi justru bertambah. “Sekarang ada 68 pengungsi di sini, sebelumnya 56. Kami tetap bertahan sampai hak-hak kami benar-benar diberikan oleh pemerintah daerah, termasuk harus merayakan lebaran di tenda,” ujarnya lirih, Senin (23/3).

Kondisi ini menjadi ironi di tengah klaim keberhasilan penanganan bencana. Jika di satu daerah pemerintah menyatakan situasi telah pulih sepenuhnya, maka realitas di daerah lain menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Lebaran di tenda bukan sekadar potret kesederhanaan, melainkan gambaran keterpaksaan. Ini adalah cermin dari ketimpangan respons dan lambannya penanganan di tingkat daerah.

Di balik senyum yang dipaksakan, tersimpan luka mendalam tentang rumah yang hilang, janji yang belum ditepati, dan hak yang belum terpenuhi.

Para pengungsi di Bireuen tidak menuntut lebih. Mereka hanya ingin kembali ke rumah, hidup dengan layak, dan merayakan hari raya seperti masyarakat lainnya, bukan di bawah tenda, tetapi di tempat yang bisa mereka sebut sebagai rumah. (red)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar