Miris, Bayi Enam Bulan Bersama Keluarganya Terpaksa Rayakan Lebaran di Tenda Pengungsian Halaman Kantor Bupati Bireuen
0 menit baca
![]() |
| Muhammad Azri (6 bulan) merayakan lebaran bersama ibundanya, Murrina, di tenda pengungsian yang dipasang di halaman kantor Bupati Bireuen, Senin (23/3). Foto Redaksi Trend Rakyat |
TrendRakyat – Suasana lebaran yang identik dengan kehangatan keluarga dan kenyamanan rumah justru terasa berbeda bagi keluarga kecil ini. Di halaman Kantor Bupati Bireuen, di bawah terpal tenda pengungsian yang sederhana, Muhammad Azri, bayi berusia enam bulan menghabiskan hari-harinya bersama orang tua dan dua kakaknya.
Azri, yang lahir pada 5 September 2025, belum genap setahun mengenal dunia. Namun, di usia yang masih sangat rentan, ia sudah harus beradaptasi dengan kehidupan di pengungsian. Tangisnya kerap pecah di tengah panas siang dan dinginnya malam, seolah menjadi potret kecil dari kondisi yang mereka hadapi.
Ia adalah anak ketiga dari pasangan Arif Ramadhan dan Murrina. Di sampingnya, sang kakak Aska Algifari (8 tahun) dan abang Muhammad Rafqa Aulia (5 tahun) berusaha tetap ceria, meski ruang bermain mereka kini terbatas di sekitar tenda.
“Kalau malam, kami sering kesulitan karena angin dan udara dingin. Apalagi untuk bayi,” ujar Murrina dengan suara pelan, sambil menggendong Azri yang terlelap di tenda pengungsian halaman kantor Bupati Bireuen, Senin (23/3).
Tenda pengungsian yang berdiri di halaman kantor bupati itu menjadi tempat berlindung sementara bagi keluarga ini. Terpal yang menutup bagian atas dan samping belum sepenuhnya mampu melindungi dari cuaca yang tak menentu. Di dalamnya, mereka hanya beralaskan tikar sederhana, dengan barang-barang seadanya.
Hari Raya Idulfitri yang seharusnya menjadi momen penuh kebahagiaan dan kebersamaan, kini mereka jalani dalam keterbatasan. Tak ada hidangan istimewa, tak ada ruang tamu untuk menyambut sanak saudara. Hanya ada harapan agar kondisi segera membaik.
Meski demikian, Arif Ramadhan tetap berusaha tegar di hadapan keluarganya. Ia mengaku bersyukur masih diberi kesehatan dan kebersamaan, meski harus menjalani lebaran di pengungsian.
“Yang penting anak-anak sehat. Kami berharap ada bantuan dan solusi agar bisa kembali hidup normal,” katanya.
Kisah keluarga ini menjadi potret nyata bahwa di balik gemerlap perayaan lebaran, masih ada masyarakat yang berjuang dalam keterbatasan. Kehadiran bayi seperti Azri di tengah kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa perhatian dan kepedulian semua pihak sangat dibutuhkan, terutama bagi mereka yang paling rentan.
Di tenda sederhana itu, Azri mungkin belum mengerti arti lebaran. Namun, kehadirannya menjadi simbol harapan bahwa di tengah kesulitan, kehidupan terus berjalan dan harapan tetap ada. (red)
