Anak Korban di Tenda Pengungsian Kantor Bupati Bireuen Tulis Surat untuk Prabowo Subianto: “Pak Presiden! Tolong Kami”
![]() |
| Bocah SD, Nur Fitri (8 tahun), memperlihatkan tulisan suratnya kepada Presiden Prabowo Subianto, Minggu, 22 Maret 2026 For Trend Rakyat |
TrendRakyat – Seorang bocah sekolah dasar (SD) di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, menyuarakan harapan yang menyentuh hati melalui sepucuk surat yang ditujukan langsung kepada Presiden Republik Indonesia.
Anak SD bernama Nur Fitri (8) itu, menuliskan kisah pilunya setelah harus bertahan hidup selama empat bulan di tenda darurat, usai rumahnya rusak akibat banjir yang melanda daerahnya.
Dalam surat yang ditulis tangan di atas kertas bergaris, Fitri memperkenalkan dirinya dengan sederhana. Ia mengaku kini tinggal di tenda pengungsian yang berada di halaman Kantor Bupati Bireuen bersama warga lainnya.
“Nama saya Nur Fitri, umur saya 8 tahun. Saya masih sekolah di SD. Sekarang saya tinggal di tenda di halaman Kantor Bupati Bireuen, rumah saya rusak karena banjir tahun lalu,” tulisnya.
Hari-hari di pengungsian menjadi pengalaman berat bagi Fitri. Ia harus menghadapi panas terik di siang hari dan dingin menusuk di malam hari, kondisi yang membuatnya sering merasa takut dan sedih.
“Di tenda saya sedih, Pak. Malam kedinginan, siang panas. Kalau hujan saya takut, kadang saya menangis diam-diam di selimut,” ungkapnya.
Kerinduan akan kehidupan normal pun tak terbendung. Fitri ingin kembali merasakan hangatnya rumah, belajar dengan tenang, dan berangkat ke sekolah seperti anak-anak seusianya.
“Pak Presiden, saya rindu rumah saya. Rindu bisa belajar di rumah saya. Rindu pergi ke sekolah dari rumah seperti anak-anak lain,” tulisnya lagi.
Momentum Hari Raya, harapan itu semakin kuat. Ia ingin merayakan momen istimewa tersebut di rumahnya sendiri, bukan di tenda pengungsian. “Hari Raya, saya ingin merayakannya di rumah, bukan di tenda,” tambahnya.
Dengan penuh harap, Fitri juga menyampaikan janji kepada Presiden. Ia berkomitmen untuk menjadi anak yang rajin belajar dan berbakti jika permohonannya dikabulkan.
“Kalau Bapak bangun rumah saya dan teman-teman yang kena banjir, saya janji akan belajar rajin dan jadi anak yang baik,” tulisnya.
Di akhir surat, Fitri mewakili suara anak-anak korban banjir lainnya di Bireuen, memohon perhatian pemerintah agar mereka bisa kembali memiliki tempat tinggal yang layak.
“Tolong Pak Presiden, bantu kami anak-anak yang rumahnya kena banjir supaya bisa punya rumah lagi,” tutupnya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik bencana, ada harapan besar dari anak-anak yang menanti uluran tangan untuk kembali memiliki kehidupan yang layak. (red)
